Inspirasi

"Kadang tidak selalu setiap tindakan membuahkan kesuksesan, tapi perlu diingat bahwa tidak ada kesuksesan tanpa tindakan"

Wednesday, November 7, 2012

Geologi Regional Pegunungan Selatan Jawa



2.1 Gomorfologi Regional
Satuan perbukitan terdapat di selatan Klaten, yaitu Perbukitan Jiwo. Perbukitan ini mempunyai kelerengan antara 40 – 150 dan beda tinggi 125 – 264 m. Beberapa puncak tertinggi di Perbukitan Jiwo adalah G. Jabalkat (± 264 m) di Perbukitan Jiwo bagian barat dan G. Konang (lk. 257 m) di Perbukitan Jiwo bagian timur. Kedua perbukitan tersebut dipisahkan oleh aliran K. Dengkeng. Perbukitan Jiwo tersusun oleh batuan Pra-Tersier hingga Tersier (Surono dkk, 1992).
Perbukitan Jiwo, Bayat merupakan in layer dari batuan Pra-tersier dan Tersier di sekitar endapan Kuarter, terutama terdiri dari endapan fluvio-volkanik dari Gunung Merapi. Ketinggian rata-rata dari perbukitan ini adalah 400 meter di atas muka laut, sehingga tergolong perbukitan rendah. Perbukitan Jiwo dibagi menjadi dua, yaitu bagian barat dan bagian timur. Perbukitan Jiwo Barat memanjang dengan arah utara – selatan, puncak-puncaknya adalah Jabalkat, Kebo, Merak, Cakaran, Budo, Sari, dan Tugu, di bagian paling utara membelok ke barat yaitu Perbukitan Kampak. Perbukitan Jiwo Timur memanjang dengan arah barat – timur, puncak-puncaknya adalah Konang, Pendul, Temas, dengan percabangan ke utara berupa puncak Jokotuo dan Bawak.
Perbukitan Jiwo Barat dan Timur dipisahkan oleh Sungai Dengkeng yang memotong daerah perbukitan secara anteseden. Sungai Dengkeng ini mengeringkan rawa menjadi dataran rendah akibat air dari Gunung Merapi tertahan oleh Pegunungan Selatan. Genangan air ini mengendapkan di sebelah utara berupa pasir dari lahar, di sebelah selatan berupa lempung hitam.
2.2 Struktur Geologi Regional
Sebelum kala Eosen Tengah, daerah Jiwo mulai mengalami proses erosi yang disebabkan oleh pengangkatan atau penurunan muka air laut selama Oligosen Akhir. Setelah proses erosi, kemudian terjadi proses transgresi yang menghasilkan endapan batugamping.
Struktur yang berkembang di daerah Bayat adalah lipatan, sesar naik, sesar turun, dan sesar mendatar. Struktur-struktur tersebut diperkirakan berkembang akibat adanya gaya kompresi dengan arah utara – selatan yang berlangsung dalam dua periode, yaitu pada awal kala Miosen Tengah sebelum Formasi Oyo terendapkan dan pada kala Pliosen setelah Formasi Oyo terendapkan.
Selama zaman Kuarter, pengendapan batugamping berakhir. Pengangkatan diikuti proses erosi yang menyebabkan daerah Jiwo menjadi lingkungan darat.


2.3 Stratigrafi Regional
Pegunungan Selatan bagian barat secara umum tersusun oleh batuan sedimen volkaniklastik dan batuan karbonat. Batuan volkanoklastiknya sebagian besar terbentuk oleh pengendapan gaya berat (gravity depositional processes) yang menghasilkan endapan kurang lebih setebal 4000 m. Hampir seluruh batuan sedimen tersebut mempunyai kemiringan ke selatan. Urutan stratigrafi penyusun Pegunungan Selatan bagian barat dari tua ke muda adalah :
Formasi Kebo - butak
Formasi Semilir
Formasi Nglanggran
Formasi Sambipitu
Formasi Wonosari
Endapan Kuarter

1.      Formasi Kebo - Butak
Formasi ini secara umum terdiri dari konglomerat, batupasir dan batulempung yang menunjukkan kenampakkan pengendapan arus turbid maupun pengendapan gaya berat yang lain. Di bagian bawah yang oleh Bothe disebut sebagai Kebo beds, tersusun atas perselang – selingan antara batupasir, batulanau dan batulempung yang khas menunjukkan struktur turbidit, dengan perselingan batupasir konglomeratan yang mengandung klastika lempung. Di bagian bawah ini diterobos oleh sill batuan beku.
Di bagian atas dari formasi ini disebut sebagai anggota Butak, tersusun oleh perulangan batupasir konglomeratan yang bergradasi menjadi lempung atau lanau, ketebalan dari formasi ini kurang lebih 800 m. urutan batuan yang membentuk Kebo Butak ini ditafsirkan terbentuk pada lingkungan lower submarine fan dengan beberapa interupsi pengendapan tipe mid fan (Raharjo, 1983), yang terbentuk pada akhir Oligosen (N2-N3) (Sumarso & Ismoyowati, van Gorsel et al.,1987).
2.      Formasi Semilir
Secara umum batu ini tersusun atas batupasir dan batulanau yang bersifat ringan, tufan, kadang – kadang dijumpai selaan breksi vulkanik. Fragmen yang membentuk breksi maupun batupasir pada umumnya berupa fragmen batuapung yang bersifat asam. Di lapangan pada umumnya menunjukkan perlapisan yang baik, struktur – struktur yang mencerminkan turbidit banyak dijumpai. Langkanya kandungan fosil pada formasi ini menunjukkan bahwa pengendapannya berlangsung secara cepat atau pengendapan tersebut terjadi pada lingkungan yang sangat dalam, berada di bawah ambang kompensasi karbonat (CCD), sehingga fosil gampingan sudah mengalami korosi sebelum dapat mencapai dasar pengendapan. Umur dari formasi ini diduga adalah awal dari Meiosen berdasar atas terdapatnya Globigerinoides primordius pada bagian yang bersifat lempungan dari formasi ini di dekat Piyungan (van Gorsel, Formasi Kebo – Butak. Tersingkap secara baik di wilayah tipenya yaitu di tebing gawir Baturagung di bawah puncak Semilir.
3.      Formasi Nglanggran
Berbeda dari formasi yang sebelumnya, Formasi Nglanggran ini tercirikan oleh penyusun utama berupa breksi dengan penyusun material vulkanik, tidak menunjukkan perlapisan yang baik dengan ketebalan yang cukup besar. Bagian yang terkasar dari breksinya hamper seluruhnya tersusun oleh bongkah – bongkah lava andesit dan juga bom andesit. Di antara massa breksi tersebut ditemukan sisipan lava yang sebagian besar telah mengalami breksiasi.
Formasi ini ditafsirkan sebagai hasil pengendapan aliran rombakan yang berasal dari gunung api bawah laut, dalam lingkungan laut dan proses pengendapan berjalan cepat, yaitu hanya selama awal Miosen.
Singkapan utama dari Formasi ini ada di Gunung Nglanggran pada perbukitan Baturagung. Kontaknya dengan Formasi Semilir di bawahnya berupa kontak tajam. Hal ini berakibat bahwa Formasi Nglanggran sering di anggap tidak selaras di atas Semilir, namun harus diperhatikan bahwa kontak tajam tersebut dapat terjadi akibat berubahnya mekanisme pengendapan dari energy rendah atau sedang menjadi energy kuat, tanpa harus melewati kurun waktu geologi yang lama, hal yang sangat biasa dalam proses pengendapan akibat gaya berat. Van Gorse (1987) menganggap bahwa pengendapan Nglanggran ini dapat diibaratkan sebagai proses runtuhnya gunung api semacam Krakatau yang ada di lingkungan laut.
Ke arah atas yaitu ke arah Formasi Sambipitu, Formasi Nglanggran, berubah secara bergradasi, seperti yang terlihat di singkapan di Sungai Putat. Lokasi yang diamati untuk EGR tahun 2002 berada pada sisi lain sungai Putat, di mana kontak kedua formasi ini ditunjukkan oleh kontak struktural.

4.      Formasi Sambipitu
Di atas Formasi Nglanggran kembali terdapat formasi batuan yang menunjukkan ciri-ciri terbidit, yaitu Formasi Sambipitu. Formasi ini tersusun terutama oleh batu pasir yang bergradasi menjadi batulanau atau batulempung. Di bagian bawah, batupasirnya masih menunjukkan sifat vulkanik sedang ke arah atas sifat vulkanik ini berubah menjadi batupasir yang bersifat gampingan. Pada batupasir gampingan ini sering dijumpai fragmen dari koral dan foraminifera besar yang berasal dari lingkungan terumbu laut dangkal, yang terseret masuk ke dalam lingkungan yang lebih dalam akibat pengaruh arus turbid.
Ke arah atas, Formasi Sambipitu berubah secara gradasional menjadi Formasi Wonosari (Anggota Oyo) seperti yang terlihat pada singkapan di sungai Widoro dekat Bundel. Formasi Sambipitu terbentuk selama jaman Meiosen.
5.      Formasi Wonosari
Selaras di atas Formasi Sambipitu terdapat Formasi Oyo / Wonosari. Formasi ini terdiri terutama dari batugamping dan napal. Penyebarannya meluas hamper setengah bagian selatan dari pegunungan Selatan memanjang ke arah timur, membelok ke arah utara di sebelah timur perbukitan panggung hingga mencapai bagian barat dari daerah depresi Wonogiri / Baturetno.
Bagian terbawah dari Formasi Oyo / Wonosari terutama terdiri dari batugamping berlapis yang menunjukkan gejala turbidit karbonat yang diendapkan pada kondisi laut yang lebih dalam, seperti yang terlihat pada singkapan pada daerah dekat muara sungai Widoro masuk ke sungai Oyo di Bunder. Di lapangan batugamping ini terlihat sebagai batugamping berlapis, menunjukkan gradasi butir dan pada bagian yang halus banyak dijumpai fosil jejak tipe burrow yang terdeapat pada bidang permukaan perlapisan ataupun memotong sejajar dengan pelapisan. Batugamping kelompok ini disebut sebagai Anggota Oyo dari Formasi Wonosari (BOTHE, 1929) atau Formasi Oyo (Rahardjo dkk, 1977 dalam Toha dkk, 1994).
Ke arah lebih muda, anggota Oyo ini bergradasi menjadi dua spesies yang berbeda. Di daerah Wonosari, batugamping ini makin kearah selatan semakin berubah menjadi batugamping terumbu yang berupa rudstone, framestone, dan floatstone, bersifat lebih keras dan dinamakan sebagai anggota Wonosari dari Formasi Oyo / Wonosari (BOTHE, 1929) atau Formasi Wonosari (Rahardjo dkk, 1977 dalam TOHA dkk). Sedangkan di barat daya kota Wonosari, batugamping terumbu ini berubah fasies menjadi batugamping berlapis yang bergradasi menjadi napal, dan disebuit sebagai anggota KEPEK dari Formasi Wonosari. Anggota KEPEK ini juga tersingkap pada bagian timur, yaitu di daerah depresi Wonogiri / Baturetno, di bawah endapan kuarter seperti yang terdapat di daerah Eromoko. Secara keseluruhan, Formasi Wonosari Ini terbentuk selama Meiosen akhir.
6.      Endapan kuarter
Di atas seri batuan sediment Tersier seperti tersebut di depan  terdapat suatu kelompok sediment yang sudah agak mengeras hingga masih lepas. Karena kelompok sedimen ini berada di atas bidang erosi, serta proses pembentukannya masih berlanjut hingga saat ini, maka secara keseluruhan sedimen ini disebut  sebagai Endapan Kuarter. Penyebarannya meluas mulai dari daerah timur laut Wonosari hingga daerah depresi Wonogiri – Baturetno. Singkapan yang baik dari endapan kuarter  ini terdapat di daerah Eromoko sekitar waduk Gajah Mungkur, namun pada EGR ini tidak dilewati.
Secara stratigrafis endapan Kuarter di daerah Eromoko, Wonogiri terletak tidak selaras di atas sedimen Tersier yang berupa batu gamping berlapis dari Formasi Wonosari atau breksi polimik dari formasi Nglanggran. Ketebalan tersingkap dari endapan Kuarter tersebut berkisar dari 10 meter hingga 14 meter. Umur endapan Kuarter tersebut diperkirakan Plistosen Bawah.
Stratigrafi endapan Kuarter di daerah Eromoko, Wonogiri secara vertical tersusun dari perulangan antara tuff halus putih kekuningan dengan perulangan gradasi batu pasir kasar ke batu pasir sedang dengan lensa-lensa konglomerat. Batu pasir tersebut berstruktur silang-siur tipe palung, sedangkan lapisan tuf terdapat di bagian bawah, tengah dan atas. Pada saat lapisan tuff terbentuk, terjadi juga aktifitas sungai yang menghasilkan konglomerat.
Lensa konglomerat yang terdapat pada lapisan tuff mengandung fragmen andesit, diorite dan batulempung yang berukuran 5 – 8 cm, sering menunjukkan adanya struktur imbrikasi fragmen. Sumber material dari lensa konglomerat tersebut diduga berasal dari hasil erosi batuan yang lebih tua dikarenakan aktivitas sungai.

Referensi:
Bemmelem, V. 1949.  The Geology of Indonesia Vol-IA General Geologi of Indonesia and Adjacent Archipelagoes. Government Printing Office, The Hague


Download File: RW Van Bemmelen Geology of Indonesia Vol-IA General


No comments:

Post a Comment

Post a Comment